Feature news

Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2013

Jika Rembulan Tiada Lagi....

Pernahkah Anda membayangkan jika Bulan tiada? Bagaimana konsekuensi yang bumi terima jika pendampingnya tiada?  Mungkin jika hal terseut benar-benar terjadi, tiada lagi gombalan seorang pria pada sang kekasih "Wajahmu secantik rembulan di tanggal 15 Jawa". Hehehehe

Ok langsung kita bahas secara ilmiah dah... :-D

Sebuah tulisan di situs Discovery, menjelaskan konsekuensi jika Bulan hilang atau hancur menjadi sebuah kenyataan.Terdapat dua skenario ilmiah. Pertama, jika debris Bulan yang hancur masih ada di sekitar Bumi dan yang kedua bila Bulan benar-benar menghilang.

Jika Bulan hilang seutuhnya, tentu kita tidak akan bisa menyaksikan lagi penampakan-penampakan indah dari si Bulan, seperti Bulan sabit, purnama, ataupun gerhana. Namun, jika debris Bulan masih ada di sekitar Bumi, debris tersebut bisa disinari Matahari, dan Kemungkinan besar sinar terang akibat debris yang memantulkan cahaya Matahari itu melebihi cahaya bulan purnama!

Jika debris Bulan masih ada, kemungkinan efek gravitasi yang diterima akan sama dengan efek gravitasi jika Bulan masih ada. Namun, jika Bulan hilang, efek gravitasinya pun akan hilang.

Jika gravitasi akibat Bulan hilang, maka pasang akibat Bulan pasti akan ikut hilang. Tetapi tenang dulu, fenomena pasang surut air laut masih akan terjadi kok, tetapi akan lebih disebabkan oleh grafitasi matahari dan akan terjadi pada siang hari.

Nah, dampak serius yang perlu diwaspadai adalah terkait perubahan poros rotasi Bumi. Diketahui, poros rotasi Bumi terus berubah, membuat Bumi berputar seperti gasing, kadang miring ke kiri dan ke kanan. Bumi tidak tegak lurus seperti yang kita bayangkan.

Salah satu faktor yang memengaruhi poros rotasi Bumi adalah Bulan. Saat ini, perubahan poros rotasi Bumi berlangsung sangat lambat. Bila Bulan tak ada, maka dampaknya adalah perubahan poros rotasi Bumi akan berlangsung lebih cepat.

Tanpa hadirnya Bulan, tingkat kemiringan poros Bumi yang kini hanya berkisar 22-25 derajat akan berubah drastis menjadi berkisar antara 0 - 85 derajat. 0 derajat akan menghilangkan variasi musim yang ada di bumi, dan jika kemiringan 85 derajat maka bumi akan memulai adaptasi baru, jika hal ini terjadi maka global warming yang sebenarnya akan terjadi.

Untungnya, efek tiadanya Bulan tak berlangsung secara tiba-tiba, perlu waktu lama sekitar jutaan tahun. Dimana mungkin di masa tersebut, zaman peradaban manusia telah berakhir. Masih bisa menuliskan gombalan pria pada sang kekasih "Wajahmu secantik rembulan di tanggal 15 Jawa" di Lomba blog Unej. :-P

Rabu, 12 Juni 2013

Angelina Jolie dan Mastektomi

Minggu kemarin dunia dikejutkan dengan pemberitaan media tentang mastektomi yang dilakukan Angelina Jolie. Bagi yang awam pasti banyak yang bertanya, apa itu mastektomi, mengapa Angelina Jolie malakukannya kok sampai-sampai menghebohkan dunia!

Nah ibu dari enam orang anak itu punya alasan mengenai keputusannya untuk melakukan mastektomi. Tunangan dari Brad Pitt itu mengatakan kepada The New York Times bahwa dokter mengatakan ia memiliki 87% resiko terkena kanker payudara dan 50% resiko kanker ovarium. hal tersebut dikarenakan ia mempunyai gen 'cacat' BRCA1, yang membuatnya berisiko tinggi terserang kanker payudara dan ovarium.

Sebenarnya setiap sel dalam tubuh manusia mempunyai dua gen BRCA1 atau BRCA2, satu diwariskan dari orangtua. Seorang wanita yang telah menerima satu gen BRCA1 atau BRCA2 yang rusak dari satu orangtua dan satu gen yang sehat dari orangtua lainnya disebut sebagai pembawa (carier) dari gen BRCA yang rusak.

Walaupun hanya satu gen BRCA1 atau BRCA2 yang sehat diperlukan untuk membantu mencegah pertumbuhan sel-sel yang bersifat kanker, satu gen BRCA sehat yang tersisa mudah terkena kerusakan karena faktor-faktor lingkungan seperti racun-racun, radiasi, dan zat kimia lain. Perempuan yang membawa gen BRCA1 atau BRCA2 yang rusak, mempunyai resiko besar menjadi penderita kanker.

Dalam dunia medis, mastektomi adalah istilah untuk operasi pengangkatan satu atau kedua payudara, sebagian atau seluruhnya. Jolie memulai proses pengangkatan payudara dengan prosedur "nipple delay" yang tujuannya untuk memastikan tidak ada kanker payudara di balik puting. Prosedur pengangkatan kedua payudara ia jalani 27 April lalu, termasuk rekonstruksi payudara menggunakan implan, bisa berasal dari jaringan di perut atau paha.
Mastektomi yang dijalani penderita ada bermacam jenisnya, tergantung dari kasus masing-masing individu. Mastektomi "nipple-sparing" hanya mengangkat jaringan payudara, tidak termasuk puting (areola). Sementara mastektomi "skin-sparing" mengangkat seluruh bagian payudara. Terakhir, mastektomi "modifed radical" mengangkat seluruh payudara termasuk jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.

Masektomi merupakan cara terefektif untuk mengindari kanker payu dara bagi orang yang memiliki gen BRCA cacat. Prosentase kemungkinan terkenanya kanker payudara berkurang hingga 95%!

Minggu, 02 Juni 2013

Serangga Rocker dari Amerika Serikat

Ilustrasi
Ada yang menarik perhatian ketika secara tidak sengaja saya melihat koran Kompas dengan judul artikel "Bisakah Serangga Bersuara Sekeras Konser Rock?" yang terbit pada tanggal 2 Juni 2013. Serangga dengan suara musik rock? Wow! Pasti suaranya sangat keras! Menarik bagi orang yang menggeluti bidang Entomologi. Pertanyaan sederhana yang menggelayuti pikiran adalah, "Bagaimana bisa serangga yang panjangnya sekitar 40 mm bisa mengeluarkan suara yang menggelegar?"

Siapa tonggeret dikenal sebagai pembuat suara bising. Serangga yang bentuknya unik ini juga memiliki siklus kehidupan yang rumit. Ketika menjadi dewasa, setelah hidup di bawah tanah selama 17 tahun, serangga jantan akan bernyanyi tanpa henti "lagu-lagu cinta'' selama sisa hidupnya yang tinggal beberapa hari.

Sepanjang waktu yang terbatas itulah serangga-serangga ini berkencan, bertelur di pohon-pohon yang mereka diami, dan kemudian mati. Ketika telur-telur itu menetas, larvanya jatuh ke tanah dan memperoleh makanan di akar-akar pohon sampai siklus biologisnya terjadi bertahun-tahun kemudian.

Magicicada septendecim
Tonggeret-tonggeret periodik ("Magicicada septendecim") muncul dalam siklus 13 tahun atau 17 tahun kemudian. Biasanya di musim semi. Sementara tonggeret-tonggeret yang muncul setiap dua tahun (Tibicen canicularis) akan muncul selama bulan Juli-Agustus. Tonggeret jenis terakhir ini bahkan bisa muncul setiap tahun. 

Tibicen canicularis
Tonggeret bisa menghasilkan suara dengan kekuatan 120 desibel, yang artinyan sama kerasnya dengan konser musik rock. Mereka menghasilkan suara sekencang itu dengan cara menggetarkan membran khusus yang ada di perutnya.
Peta pengeraman II dan ilustrasi Tibicen canicularis
Satu dari 17 tahun pengeraman yang oleh para peneliti disebut sebagai Pengeraman II berlangsung di musim semi. Di saat itu, pohon-pohon dan tanah-tanah lapang di Amerika Serikat, dari Connecticut sampai Carolina, akan dipenuhi serangga bersayap yang bersuara bising.

Selasa, 28 Mei 2013

The Newest Science: “Bioinformatika”

Istilah Bioinformatika mungkin masih asing ditelinga kita, karena tidak pernah diajarkan saat kita masih SD, SMP, maupun SMA, apalagi TK #hehehehe :-P . Terlepas dari semua itu, ayo kita menyelami seluk-beluk dari Bioinformatika walau hanya sebatas sabut kelapa, yang penting memperluas wawasan kita, oyi boss??. 

Actually, Bioinformatika berhutang pada ilmu biologi molekuler dan teknik informatika atas segala perkembangannya. Namun, pada akhirnya ia menjadi semakin menjadi cabang sains multidisipliner, karena berinteraksi dengan ilmu lain. How it could be? allright, I will try to describe… :-D 

Salah satu analogi yang sering digunakan untuk menggambarkan Bioinformatika adalah dengan menjadikan manajerial kantor sebagai role model. Jika kita perhatikan sebuah kantor, maka ada beberapa bagian yang menopang manajerialnya, seperti personalia, keuangan, administrasi, supply chain, dan lainnya. Walaupun semua itu komponen yang berbeda, namun bekerja sinergis dalam manajerial suatu kantor. Bioinformatika juga dapat dianalogikan sebagai kantor yang memiliki berbagai komponen yang bekerja secara sinergis dan terstruktur. Satu komponen dengan lainnya berhubungan dengan erat. 

Sebagai ilustrasi, ilmu bioinformatika bertugas untuk menyelesaikan problem biologis, sehingga diperlukan daya komputasi yang dapat mem-”break down” problem biologis menjadi komponen yang dapat diselesaikan secara simultan dan efisien. Pembangunan daya komputasi tersebut, tentu saja memerlukan keterampilan yang sangat baik dalam teknik informatika. 

 Software development Bioinformatika menempati porsi yang cukup dominan dalam publikasi ilmiah terpopuler dan memiliki impact factor tinggi, seperti di BMC Bioinformatics, Oxford Bioinformatics, dan PloS Computational Biology. Oleh karena itu, Bioinformatika sudah dari episteme awalnya adalah sebuah wacana multi-disiplin. 

Dalam perkembangannya pada riset tingkat Universitas, ternyata bioinformatika tidak hanya bersentuhan dengan teknik informatika dan biologi molekuler saja. Ternyata, sudah banyak research group dari latar belakang keilmuan yang sangat berbeda dari kedua ilmu tersebut, sudah mengadopsi bioinformatika sebagai bagian dari agenda riset mereka. Sebut saja, Ilmu Farmasi, Kedokteran, Kimia, dan Teknik. Seru kan?? hehehehe 

Ilmu Kimia adalah bagian yang sangat dekat dengan Bioinformatika, sehubungan ilmu biologi molekuler juga dipelajari di Departemen Kimia. Ilmu kimia mempelajari interaksi molekuler dan perubahan energi yang menyertainya, dan hal ini juga dapat dipelajari melalui bioinformatika. Ekpresi genetik, protein, transkriptomik, dan epigenomik dapat juga dipelajari sejauh mana interaksi biokimiawi yang mendasarinya. Sehingga, output dari penelitian komputasi kimia ini dapat digunakan sebagai informasi awal untuk penelitian yang lebih bersifat terapan. 

Ternyata, ilmu kimia memiliki saudara kandung yang juga sangat dekat kekerabatannya, yaitu ilmu Farmasi. Sebagai ilmu yang bertanggung jawab untuk mengembangkan agen terapetik dan preventif untuk berbagai penyakit, ilmu farmasi juga dapat menggunakan ilmu bioinformatika untuk riset tingkat lanjutan. Informasi awal yang telah dikumpulkan oleh ilmu kimia, dapat digunakan oleh ilmu Farmasi untuk mengembangkan obat atau vaksin cerdas (rational design), yang dibantu pengembangannya dengan ilmu bioinformatika. Ilmu Farmasi tetap dapat menggunakan daya komputasi bioinformatika yang luar biasa, untuk mempelajari interaksi obat dan vaksin dengan sistem biologis. 

Bioinformatika juga dapat dimanfaatkan oleh ilmu Kedokteran dasar. Pengumpulan sampel dari pasien, untuk kemudian digunakan dalam eksperimen biologi molekuler, sangat memerlukan peran dokter yang juga menguasai ilmu biomedik. Seperti biasa, data yang dihasilkan oleh eksperimen tersebut dapat diolah menjadi informasi berguna oleh ilmu bioinformatika. Pada akhirnya, pengolahan data eksperimen laboratorium ini akan sangat berguna sebagai informasi awal untuk memasuki uji klinis. Di sisi lain, Ilmu Teknik juga dapat berperan dalam pengembangan bioinformatika. Proses produksi agen terapetik dan preventif memerlukan simulasi komputasi, dimana Bioinformatika dapat digunakan untuk itu. 

Sajian ini menunjukkan, bahwa ilmu bioinformatika memang tidak dapat disentralisasi kepada satu ilmu atau satu kelompok saja, namun ia seyogyanya dimanfaatkan oleh kepentingan banyak kelompok, dalam rangka memberikan hasil yang baik untuk peningkatan taraf kesehatan pasien.

Kolaborasi nasional atau internasional, dalam bentuk konsorsium yang anggotanya memiliki berbagai latar belakang keilmuan, memang sangat dimungkinkan dalam penelitian bioinformatika. Semoga kolaborasi semacam itu juga bisa terwujud di Indonesia agar kita jangan tertinggal lagi. 

Weel, that’s all, Bioinformatika memang membutuhkan keahlian dalam berbagai sudut pandang keilmuan, tidak dapat dipisah-pisah, ibaratnya bumbu masak nasi goreng, kalau cuma bawang pasti rasanya gak sip, pake cabe saja apa lagi, pedasss. Nah biar enak dibutuhkan berbagai bumbu agar enak nasi gorengnya… hehehe… #Dari Bioinformatika larinya kok ke nasi goreng, jadi laper… -_- 

Sumber: Kompas.com dengan berbagai modifikasi