Minggu, 02 Juni 2013

Perbedaan Ketiban Ilmu dan Menuntut Ilmu

Anak-anak mengaji
Manusia dikaruniai akal pikiran untuk membedakannya dengan binatang. jika manusia tak berakal, maka tak ada bedanya dengan sapi, kerbau, kambing, dll, hehehehe. Maka dari itulah manusia dituntut untuk mengembangkan potensi akal fikirannya agar dapat hidup lebih baik.

Teknologi elektronik dan informasi yang semakin kompleks melahirkan banyak jenis dan bentuk media yang hadir di depan kita. Jika zaman dahulu berita dan ilmu pengetahuan disalurkan dengan amat lambat, sekarang sudah berubah 180 derajat,  semuanya serba cepat dengan lahirnya berbagai media komunikasi yang dikembangkan manusia, seperti televisi, radio, internet, surat kabar, dan masih banyak yang lainnya. Akibat dari berbagai media komunikasi tersebut, maka mengakibatkan seolah zaman sekarang jarak bukanlah suatu rintangan berarti, seperti tidak berjarak lagi antara watu kejadian nyata dan informasi yang kita terima.

kecanggihan media informasi ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Mulai dari sistem pembelajaran sekolah yang dikenal denga istilah e-learning, seminar dan kuliah jarak jauh menggunakan teleconference,  demikian juga dalam dunia dakwah yang banyak kita temui di radio dan televisi.

Orang yang paham dengan penggunaan media informasi tersebut tentunya sangan senang, karena meringankan kewajiban dalam mencari ilmu, atau sering kita dengar ketika kita mengaji dengan istilah "Tholabul ilmi", seperti seruan Nabi Muhammad kepada ummatnya, "uthlubul ilma wa lau bis-shin" carilah ilmu sampai negeri cina.

mungkin yang mengenal hadis tersebut bertanya-tanya. Apakah kriteria mencari ilmu itu cukup hanya dengan duduk di depan televisi dan menyimak atau sambil mencatat materi para ustadz yang sedang berceramah? Atau dengan duduk manis di depan komputer, menkoneksikan internet, dan mengunjungi berbagai situs Islam dengan materi yang kebenarannya riskan jika tidak memiliki filter sebelumnya? Apakah semua itu layak disebut "Tholabul ilmi"?

Mengenai gambaran ini, Muallim KH. Syafi’I Hadzami pernah mengatakan bahawa semua itu sebagai ketiban ilmu bukan mencari ilmu. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa membaca, menonton atau mendengarkan berbagai materi dakwah melalui media apapun merupakan amal baik dan insyaallah banyak manfaatnya. Namun jika jalan mendapatkan ilmu seperti gambaran di atas tanpa ada usaha yang cukup berat, itu belum pantas disebut 'menuntut ilmu, mengaji, juga bukan "thalabul ilmi". mengapa demikian? Sesungguhnya menuntut itu mensyaratkan hadirnya seorang guru yang akan membimbing dan mengarahkan serta memberikan suri tauladan langsung dalam dunia nyata, tanpa adanya halangan, sehingga sang penuntut ilmu bisa mendengarkan langsung materi dan contoh aplikatifnya dalam dunia nyata.

Oleh karena itu jika seseorang ingin menuntut ilmu, maka ia harus mencarinya walaupun sampai berjalan yang jauhnya bisa diibaratkan seperti jarak dari Sabang sampai Merauke. Sebagaimana jauhnya perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Allah Musa as. ketika menelusuri daratan dan mengarungi lautan yang sudah barang tentu penuh dengan halang rintang dan usaha yang sangat keras dalam rangka mencari  seorang guru, yakni Nabi Allah Khidir as.

Sebagaimana kata thlabul ilmi identik dengan thalabul mursyid (mencari guru)  sebagai penunjuknya. Sangat vitalnya posisi seorang guru dalam pencarian petunjuk seperti yang diterangkan oleh Ibn Ruslan.

من لم يكن يعلم ذا فليسأل          *               من لم يجد معلما فليرحل

Barang siapa yang tidak mengetahui akan sesuatu masalah hendaklah ia bertanya. Barang siapa yang tidak mendapatkan guru, hendaklah ia berlayar.

Kata berlayar dalam konteks syi’ir diatas mempunyai makna bepergian  yang sudah barang tentu melakukan proses usaha keras. Wallahu a’lam bis-showab.


Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar