Minggu, 02 Juni 2013

Belajar Agama Melalui Internet. Pantaskah?

Ilustrasi
Zaman sekarang, arus informasi sangat deras, informasi detik ini di belahan bumi barat, bisa langsung diterima beberapa detik di belahan bumi timur.  Akibat dari hal tersebut, globalisasi pun sulit untuk dihindari. Informasi yang baik maupun buruk dengan cepat menyebar, jika seseorang tidak mempunyai dasar yang kuat tentang suatu keilmuan, maka tidak ada filter dalam menyaring arus informasi tersebut. Sehingga di zaman sekarang ini sangat susah membedakan antara orang yang alim (orang yang mengerti) dan orang jahil (orang yang tidak mengerti), antara ahli fiqh dan orang yang mengaku-ngaku ahli fiqh. Sekarang sangat banyak orang yang seperti itu, tak terkecuali di kampus-kampus. 

Informasi yang ingin dicari dapat dengan mudah ditemukan di media-media informasi, terutama internet.Tinggal mengetik hal yang ingin kita cari di search engine, maka dengan sekejap langsung keluar situs-situs yang berkaitan. Entah benar atau salah informasi yang ditampilkan oleh situs tersebut, hanya pembaca yang bisa menyimpulkan berdasarkan pemahamannya.

Berbagai informasi dan pengetahuan dengan mudah dapat diakses di dunia cyber (internet). Parahnya lagi, banyak orang yang menjadikan internet sebagai seorang guru tempat bertanya dan mencari tahu. Dan lebih celakanya lagi, dari guru (internet) inilah mereka lalu mengajarkan apa yang di dapatnya kepada orang lain.

Tidak semua yang ada di internet adalah tidak benar, banyak juga orang-orang yang kompeten dibidangnya menulis materi keilmuan melalui media internet, tetapi tidak kalah banyaknya pula orang-orang yang berusaha menyebarkan paham yang bisa dikatakan menyimpang menurut Ahlussunnah. Banyak sekali kebenaran yang tertulis di situs-situs internet, tetapi kebenaran itu belum teruji dan masih perlu diferifikasi kepada penulisnya, apakah sang penulis kompeten dibidangnya atau tidak, atau jangan-jangan yang situs tersebut hanya copy-paste tanpa menyertakan sumber. 

Niat awal ingin mendapat berkah, internet banyak sekali memberi musibah. Bagaimana bisa seseorang menjadikan seseuatu yang menyebabkan banyak musibah sebagai seorang guru? Jika tidak ingin seperti itu, maka carilah guru yang benar-benar menjunjung tinggi Ahlussunnah, bukan dari internet yang campur aduk antara yang baik dan yang buruk.

Media informasi internet harus diposisikan dengan benar agar memberi manfaat yang sebesar-besarnya. Sebagaimana pisau di tangan tukang masak, tentu tidak sama fungsinya jika di tangan penjahat. Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. yang berguru langsung kepada Malaikat Jibril, sebagaimana dilanutnkan dalam sya’ir:
ومن يأخذ العلم من شيخ مشافهة       #     يكن عن الزيغ والتصحيف فى حرم
ومن يكن أخذا للعلم من صحف        #     فعلمـــه عند أهــــــــل العلم كالعدم
Barangsiapa yang mengambil ilmu dari seorang guru dengan musyafahah (berhadap-hadapan langsung), niscaya terpeliharalah ia dari tergelincir dan keliru. Dan barangsiapa mengambil ilmu dari buku-buku (apalagi internet), maka pengetahuannya menurut penilaian ahli ilmu adalah nihil semata.

Demikianlah seharusnya memposisikan internet sebagai media yang harus dikonfirmasi kembali berbagi informasi di dalamnya, khususnya kepada seorang guru yang memang kompeten dalam bidang yang ditanyakan. Ibaratnya materi keilmuan dari internet jangan langsung langsung ditelan karena belum masak, tetapi harus dimasak lebih dahulu agar bisa dijadikan pedoman. 

sangat disayangkan, banyak orang yang terlalu meninggikan ego dalam dirinya sehingga malu bertanya dan enggan mengakui orang lain sebagai orang yang lebih paham. Jika sudah demikian, maka percuma berbagai nasehat, karena keinkarannya lebih kuat dari pada keinginan untuk belajar.

المنكر لايفيده التطويل ولو تليت عليه التوراة والانجيل 

Tidaklah berguna berpanjang kalam (keterangan) bagi orang yang telah inkar, walaupun dibacakan untuknya taurat dan injil.


Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar