Selasa, 04 Juni 2013

Subyektifitas Pemikiran yang Menyesatkan

Ilustrasi
Manusia adalah makhluk pilihan Allah yang diutus sebagai khalifah di bumi, dianugerahi berbagai kelebihan dibandingkan makhluk yang lain. Bahkan Iblis pun iri terhadap manusia karena terpilih sebagai khalifah di bumi, ketika Allah memerintahkan Iblis dan Malaikat sujud (sebagai bentuk rasa hormat) kepada manusia, hanya golongan Malaikat yang patuh, iblis menolak dan bersumpah akan menyesatkan umat manusia hingga akhir zaman.

Mengapa Iblis berlaku demikian? Tak lain karena ia merasa dirinya lebih mulia dari manusia yang hanya tercipta dari sekelumit tanah, dan Iblis tercipta dari api. Ia lupa bahwa Allah lebih tau mengapa manusia diutus sebagai khalifah di bumi, ia dipenuhi rasa dengki karena merasa ia lebih mulia dan lebih pantas dari manusia. Sombong.

Masalah yang sering menghinggapi manusia adalah sifat sombong yang mengedepankan nafsu dan pemikiran "Ane lebih baik dari lo..." tanpa menghiraukan bahwa Manusia diciptakan pasti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, yah miriplah sama sifatnya Iblis, subyektifitas lebih superior dari obyektifitas. Terkadang dalam pergaulan, kita sering menjumpai hal-hal semacam ini, ketika berdiskusi masalah akademis atau keseharian, esensi dari diskusi untuk mencari kebenaran malah berbelok arah menjadi mencari rasa kemenangan dengan membelakangkan akal dan fikiran, juga hati nurani dikesampingkan tentunya. Nafsu ingin menang dan diakui bahwa ia lebih pintar, lebih mulia dari lawan diskusinya. Ya, ini memang sifat hitam dari Manusia.

Alangkah indahnya jika saling menghargai perbedaan, tanpa memaksakan pemikiran kepada orang lain, banyak tumbuh di sekitar kita. Pastilah dunia ini tak ada perang, hehehehe... Tapi memang sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia tak lepas dari sifat ke-iblisan-nya. Malaikat pun pernah memprotes Allah mengapa Manusia menjadi khalifah di bumi padahal ia banyak menumpahkan darah. Allah pun menjawab "Aku lebih tau daripada kamu..." Ini menandakan bahwa dari berbagai kebusukan yang Manusia buat, masih terdapat kebaikan-kebaikan yang tercipta didunia dari tangan manusia... Well.. Setiap manusia pasti memiliki sisi baik dan buruk, seperti koin mata uang yang tidak dapat dipisahkan, Hanya kita harus berusaha dan berdoa agar terhindar dari sifat-sifat buruk, mawas diri dan terbuka atas koreksian atau masukan dari sesama, karena kita bukan Malaikat yang selalu berbuat taat, hehehehe...

Utamakan sifat oyektif, kalau kita tak selamanya hidup di dunia, kita sedang ditunggu liang lahat dan malaikat yang siap sedia menanyai kita kelak, "ujian alam barzah", taburkan sifat baik sebisa dan semampu kita, semoga kita mengakhiri kehidupan dengan khusnul khotimah.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar