Jumat, 07 Juni 2013

Mimpi Sahabat tentang Sayyidina Umar di Alam Barzah

Siapa yang tidak pernah bermimpi, setiap orang pasti pernah mengalaminya, baik mimpi buruk maupun mimpi baik. Ada kalanya suatu mimpi menjadi kenyataan, atau hanya sekedar bunga tidur. Tetapi, mimpi orang-orang sholih sangat sering menjadi kenyataan, atau bahkan berisi informasi yang kesemuanya berasal dari Allah. Seperti mimpi sahabat tentang Sayyidina Umar di alam barzah.

Setelah Sayyidina Umar bin Khattab wafat, para sahabat berjumpa khalifah ketiga ini melalui mimpi. Mereka pun bertanya, ”Bagaimana Allah memperlakukanmu?”

Dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah dikisahkan Umar menjawab "Allah mengampuni kekeliruan-kekeliruanku dan membebaskan siksanya ". 

Para sahabat kembali bertanya. ”Kok bisa begitu? Apakah karena kedermawanan, keadilan, atau kezuhudanmu?”

Umar mengisahkan peristiwa di alam kubur. ""Sejenak usai aku dimakamkan, dua malaikat menghampiriku (Munkar dan Nakir). Aku sangat takut. Nalarku hilang. Sebelum malaikat menanyaiku, tiba-tiba aku mendengar suara tanpa rupa".

”Tinggalkan hamba-Ku itu. Jangan bertanya apapun kepadanya (Umar). Jangan dibuat takut. Aku mengasihi dan membebaskan siksa darinya. Tatkala di dunia, ia pernah berbelaskasihan kepada seekor burung emprit.”

Benar. Kisah burung emprit bermula ketika Umar tengah berjalan menuju alun-alun kota dan berjumpa anak kecil. Hati Umar sedih. Bocah itu terlihat sedang memegang burung emprit dan memperlakukannya selayak mainan.

Umar tergerak untuk segera membeli binatang malang itu untuk menyelamatkannya dari perlakuan buruk si bocah. Dan akhirnya burung emprit berhasil dibeli dan sepenuhnya menjadi milik Umar., khalifah ketiga ini pun membebaskan burung tersebut terbang dengan merdeka.

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah tersebut adalah ajaran  Baginda Rasulullah SAW bersifat rahmatal lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).  Hal yang menjadi bukti adalah ajaran Rasulullah SAW. menancap kuat di hati dan perilaku Umar bin Khottob. Meskipun sering tampil garang, sahabat Nabi berjuluk ”Singa Padang Pasir” itu tetap menunjukkan kelembutan hatinya ke sesama makhluk.

Pesan lain yang bisa ditangkap dari kisah tersebut adalah cakupan cinta kasih bersifat tanpa batas. Kepada pohon, sungai, tanah, makanan, pakaian, buku, burung, anjing, dan lain-lain. Terlebih ke sesama manusia. Ini selaras dengan hadits riwayat Abdullah bin Umar.

Orang-orang yang berbelaskasih akan mendapatkan belas kasih dari Yang Maha Pengasih. Berbelaskasihlah kepada tiap makhluk di bumi, niscaya ’penduduk langit’ mengasihimu.”

Mari bersyukur kita terlahir sebagai seorang muslim, dan semoga kita mati dalam keadaan khusnul khotimah . Amin.

 Wallohua'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar